Pengalaman Hidup

Kali ini mimin akan berbagi penggalaman pribadi mimin untuk kawanku semua, saya lahir dan tumbuh besar di kota Medan. Kota ini tidak hanya dikenal sebagai kota metropolitan, namun juga dikenal sebagai kota kuliner. Makanan khas kota medan seperti bakso, sate, nasi padang atau donat yang enak. Tapi saat ini saya tidak ingin bercerita tentang makanan makanan tersebut.

Jadi begini lah awal cerita tersebut, ketika itu aku yang sudah setengah tahun lulus dari wisuda, tidak pergi mencari kerja, pagi tidur sampai siang, malam pergi main internet sampai tengah malam, dan akhirnya aku memutuskan untuk meminta uang pada orang tua dan mau pergi ke Amerika untuk menuntut ilmu lebih dalam lagi.

pengembara

Ayahku adalah seorang warga Amerika, dan menetap di Indonesia, Medan dan menikah dengan ibu saya kala itu. Sejak kecil dulu, aku selalu berpikir mau jadi pengembara, ingin berkelana melihat lihat dunia luar. Dan ingin pergi melihat dan berkeliling dunia. Niatku setelah pulang dari Amerika nanti, aku akan jadi dokter seperti ayah. Ya, ayahku ini adalah seorang dokter, dan ibuku seorang guru les di sebuah konstitusi, dan juga ekonomi keluarga saya juga memungkinkan, namun saat kusinggung ingin pergi ke Amerika, Ayah hanya mengiyakannya, dia akan membayar biaya pergi kesana, namun dia tidak akan memberiku uang jajan maupun uang uang lainnya. Dia menuntutku agar mandiri jadi aku pun jadi tidak ingin meminta banyak dari mereka. Sesudah mantap, aku pergi ke New York. Ibu memberiku sedikit uang saku kala itu, dan aku menerimanya, dan tentu saja uang tersebut dirahasiakan dari ayahku.

Kala itu, aku pergi bekerja memotong kayu sambil kuliah disana dan sekalian menabung. Karena saat itu musim panas, siang itu terasa sangat lambat dan panjang, matahari baru terbenam kira kira tengah malam dan sebentar kemudian jam 3 subuh sudah terbit lagi mataharinya. Jadi jika dalam sehari aku bisa bekerja 16jam, memotong kayu selama satu musim, maka aku bisa menabung untuk biaya kuliahku nantinya.

Suatu ketika, ketika pulang dari pekerjaanku, menuju rumah, pernah sekali ketika aku sedang berjalan pulang ke rumah, aku mendengar teriakan erangan melonglong serigala di atas gunung.  Karena penasaran, aku pun mencari cari asal suara tersebut. Aku menaiki gunung dan mulai mencari cari, akhirnya menemukan seekor serigala betina sedang terjerat jebakan yang dipasang disana dan sedang merintih kesakitan. Kala itu aku ingin membantu dan melepas serigala tersebut, namun serigala tersebut sangat ganas, dan tentu saja aku pun jadi sedikit ciut. Namun kalau kutinggalkan, seringala tersebut pasti akan mati kelaparan.

Jadi, kukumpulkan segenap keberanianku saat itu dan kubuka jebakan yang menjerat kaki serigala tersebut. Ajaibnya, serigala tersebut tidak berusaha mengigitku, dia hanya menatapku, dan setelah kulepaskan jebakannya, dia berjalan pergi terpincang pincang, mungkin menuju ke sarangnya kembali. Sesekali serigala tersebut menatap ke belakang seakan ingin berterima kasih.

Aku pun berpikir mengenai ini, jika seekor serigala saja bisa menjadi teman bagi manusia, maka bukan tidak mungkin bagi seorang manusia membuat manusia lain agar meletakkan senjatanya dan berkawan berdamai?

Karenanya setelah kembali bekerja keesokan harinya, di perusahaan aku bersikap baik hati kepada orang lain. Melakukan pekerjaan dengan tulus, sering menolong orang lain, tidak berhati sempit dan mengingat kesalahan kesalahan kecil orang lain. Oleh karena itu, aku pun selalu naik jabatan, dan promosiku pun cepat sekali. Yang terpenting disini adalah bahwa aku setiap hari melewati kehidupanku ini dengan hati yang gembira. Dengan membantu orang lain, kita akan merasa lebih bahagia daripada orang yang menerima bantuan tersebut.

Barulah dari saat itu aku menyadari bahwa tindakan ayah untuk membiarkan ku pergi agar mandiri adalah karena dia ingin aku nantinya sukses dan berlaku baik nantinya. Dan ini benar sekali, hanya sesuatau hal yang yang kita mau, yang bisa kita hargai, strawberry yang sudah mendapatkan embun baru akan manis, manusia yang sudah diasah kesulitan dan diuji kesiapannya baru akan menjadi dewasa dan matang.

Jadi jika nantinya suatu saat nanti anak anda sudah tamat sekolah atau sudah tamat kuliah, namun dia tidak tahu mau bekerja apa alias tidak punya tujuan hidup, maka biarkanlah dia pergi merantau, biarkanlah dia diasah oleh sang kehidupan. Tidak perlu memberinya banyak uang, nanti kebiasaan. Biarkanlah dia mencari makan dengan kedua tangannya itu sendiri, dengan tenaganya sendiri, dengan pemikirannya sendiri. Berikan dia 1 kesempatan untuk membuktikan kekuatannya dan mencicipi kehidupan, niscaya dan percayalah dia akan bisa mendapatkan sebuah pengalaman yang berguna seumur hidup.

Tuhan memberkati. Shalom!!

 

posted by rk.

 

 

2285 Total Views 2 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *