Langit Seakan Runtuh, Dahsyatnya Ledakan ‘Mother of All Bombs’ AS

Lintasmetro – Usai menunaikan ibadah salat, Mohammad Shahzadah menutup gerbang rumahnya, lalu bersiap makan malam. Tiba-tiba ledakan terjadi. Langit pun merah, tanah berguncang hebat.

“Tanah yang kami pijak seakan menjelma jadi perahu di tengah badai,” kata Shahzadah, seperti dikutip dari situs Guardian.

“Saya pikir rumahku dibom. Sebab, pada tahun lalu serangan drone menargetkan tempat tinggal yang berada di sebelah. Tapi kali ini, langit seakan runtuh, anak-anak dan perempuan takut setengah mati.”

Pada hari Kamis tanggal 13 April 2017, Amerika Serikat menjatuhkan bom non-nuklir terbesarnya ke area Afghanistan timur.

GBU-43/B yang dikenal dengan julukan ‘mother of all bombs’ (MOAB) menargetkan terowongan dan bunker di Distrik Achin di Provinsi Nangarhar. Struktur bawah tanah itu dibangun oleh militan yang loyal terhadap negara ISIS.

Bom yang dipandu sistem GPD itu mengandung bahan peledak yang kekuatannya setara dengan 11 ton TNT. MOAB meledak di atas permukaan tanah dengan radius lebih dari 1 mil atau 1,6 km.

Bom itu dijatuhkan melalui persawat di pegunungan dekat Desa Moman, tepatnya di area yang disebut dengan nama Asadkhel. Shaddle Bazar, area di mana Shahzadah tinggal, letaknya sekitar 1,5 mil jauhnya dari titik ledakan.

“Telingaku mendadak tuli untuk sementara. Jendela dan pintu rumah rusak, ada sejumlah retakan yang terbentuk di dinding,” kata pria itu.

Pihak militer Amerika Serikat menjelaskan, serangan yang dilancarkan menewaskan sedikitnya 36 militan ISIS.

Pagi berikutnya, sekitar jam 09.00, jet-jet tempur memberondong area, demikian menurut komandan polisi setempat, Baaz Jan. Aparat lokal juga meminta serangan lanjutan, karena baik bom maupun serangan jet tempur gagal menghancurkan kompleks terowongan.

Komandan tertinggi AS di Afghanistan, Jenderal John Nicholson menjelaskan, keputusan menjatuhkan bom diambil di Afghanistan, bukan Washington DC.

“Sejak awal Maret kami melakukan operasi ofensif di Nangarhar selatan,” kata Nicholson.

Di sisi lain, para pengamat mempertanyakan tentang arti penting penggunaan senjata berkekuatan besar terhadap 600-800 militan yang hanya menghadirkan ancaman relatif kecil pada Afghanistan.

“Memang benar, ISIS sangat brutal dan melakukan kekejaman pada warga. Tetapi, saya tidak habis pikir mengapa bom seperti itu harus dijatuhkan,” kata Wali Kota Achin, Naweed Shinwari.

“Itu (bom) justru meneror masyarakat yang ada. Kerabatku sempat mengira kiamat sudah tiba. Setiap hari ada jet-jet tempur dan drone yang diterbangkan di sana.”

Efek Dahsyat Ledakan

Markas Departemen Pertahanan Amerika Serikat di Pentagon pada Jumat waktu setempat merilis efek ledakan ‘mother of all bombs’ (MOAB) di Afghanistan.

Dalam video yang berdurasi 30 detik terlihat, GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) yang bobotnya mencapai 21.000 pound atau 9.525 kilogram dijatuhkan sebelum meledak di udara.

Kepulan asap langsung muncul dari lokasi terdampak.

Markas AS di Kabul menjelaskan, bom dijatuhkan pada pukul 19.32 waktu setempat, pada hari Kamis 13 April 2017.

Presiden Donald Trump, yang mengaku merestui serangan tersebut menyebutnya sebagai, “misi yang sangat, sangat, berhasil.”

Saksikan video dahsyatnya ledakan ‘Mother of All Bombs’ milik AS berikut ini:

158 Total Views 1 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *