5 Hal yang Perlu Diketahui soal Nabi Palsu di Tana Toraja

5 Hal yang Perlu Diketahui soal Nabi Palsu di Tana Toraja
5 Hal yang Perlu Diketahui soal Nabi Palsu di Tana Toraja

LINTASMETRO-5 Hal yang Perlu Diketahui soal Nabi Palsu di Tana Toraja Paruru Daeng Tau, warga Dusun Mambura, Lembang Buntu, Kecamatan Mengkendek. Tana Toraja,

Sulsel, mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bukan tanpa sebab, pria bertubuh tambun asal Gowa, Sulsel itu mengaku-ngaku nabi terakhir bagi umat Islam.

5 Hal yang Perlu Diketahui soal Nabi Palsu di Tana Toraja

1.Pimpinan Ormas

Nabi palsu Paruru Daeng Tau diketahui sebagai pemimpin organisasi masyarakat bernama Lembaga Pelaksana Amanah Adat dan Pancasila (LPAAP).

Organisasi ini mengaku Islam namun dalam praktiknya tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Dari ormas inilah Paruru menyebarkan aliran sesat yang bertentangan dengan Islam hingga dirinya punya pengikut sekitar 50 orang atau 8 kepala keluarga.

2.Ajaran Aneh

Dalam aktivitasnya, Paruru mengaku sebagai nabi terakhir. Pengakuan ini bahkan telah dilontarkannya sejak lama di Kabupaten Gowa.

Namun pada saat itu dirinya hanya mendapat teguran dari tokoh masyarkat. Beberapa ajarannya yang dianggap menyimpang antara lain,

salah hanya perlu dilakukan dua kali sehari, tata cara salat yang tidak sesuai dengan syariat, dan tidak perlu mentaati rukun Islam.

Bahkan pengikutnya tidak perlu puasa saat Ramadan, tidak wajib membayar zakat, dan tidak harus haji.

3.Fatwa MUI

Melihat ajaran yang menyimpang tersebut, MUI Tana Toraja langsung mengeluarkan fatwa bahwa Lembaga Pelaksana

Amanah Adat dan Pancasila (LPAAP) tidak sesuai dengan ajaran agama Islam sehingga aliran tersebut dianggap sesat.

MUI Tana Toraja meminta kepala Kantor Kementerian Agama Tana Toraja memberikan pembinaan kepada masyarakat terkait aktivitas LPAAP yang menyimpang dari ajaran agama Islam.

Ketua MUI Tana Toraja KH Ahmad Zainal Muttakin bahkan meminta kejaksaan Tana Toraja menutup seluruh aktivitas LPAAP.

“Kami meminta Kesbangpol untuk tidak memberikan izin perpanjangan SKT kepada LPAAP yang mengantongi SKT Kesbangpol Tana Toraja sejak tahun 2016,” katanya.

4.Ancaman Hukuman

Jika terbukti bersalah, nabi palsu Paruru Daeng Tau bisa dikenakan pasal tentang penodaan agama yang tertuang dalam pasal 156 dan 156a KUHP, yang berbunyi:

“Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia,

diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun atau pidana denda paling banyak Rp 4.500.”

5.Pasal 156a KUHP:

“Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan

perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu ahama yang dianut di Indonesia

12 Total Views 1 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *