FILM KECUMBU TUBUH INDAHKU

FILM KECUMBU TUBUH INDAHKU

FILM KECUMBU TUBUH INDAHKU

FILM KECUMBU TUBUH INDAHKU

LINTAS METRO , Ada banyak alasan memilih Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho sebagai perwakilan Indonesia ke Oscar 2020.

Namun ada banyak alasan pula film Indonesia akan -kembali- sulit mencapai target di Oscar, masuk nominasi.

Komite Seleksi Film pada telah memutuskan memilih Kucumbu Tubuh Indahku sebagai perwakilan Indonesia di ajang Best International Feature Film atau dulu yang dikenal sebagai Best Foreign Language Film.

Kami sepakat memilih film Kucumbu Tubuh Indahku karena kami melihat bahwa dari film itu sebagai sebuah karya film lengkap.

Film itu bukan hanya bahasa oral dan gambar saja,

tapi ada bahasa batin dan rasa,” paparnya.

Lebih lanjut, dia mencontohkan bahwa adegan percintaan dalam film ini digambarkan tidak seperti biasa sebagaimana orang bercinta yang vulgar.

Tapi justru dengan idiom-idiom dalam budaya kita itu ada penari Lengger. Sekaligus ini perkenalkan kayanya budaya kita. Jadi ini yang kita lihat lengkap di samping pesannya yang kuat bicara tentang kemunafikan,” kata Christine Hakim.

Bukan hanya itu, LINTAS METRO sebelumnya menilai FILM KECUMBU TUBUH INDAHKU berani mengangkat kisah bernuansa LGBT di tengah suasana Indonesia yang sensitif dengan kelompok marjinal tersebut.

Dengan cerita yang mengangkat kelompok LGBT, hal ini akan bisa menarik perhatian juri Oscar.

Ditambah nama Garin Nugroho juga tergolong akrab bagi sebagian kritikus dan sineas di Hollywood.

Beragam hal tersebut setidaknya membuat Kucumbu Tubuh Indahku memiliki modal yang cukup untuk membuat juri Best International Feature Film, setidaknya, berkenan melihat lebih lanjut.

Meski begitu, sejumlah alasan lainnya pun bisa jadi hambatan Kucumbu menari luwes di hadapan para juri dan membuka jalan menjadi nominasi Oscar.

Hal pertama yang bisa menjadi hambatan adalah masalah promosi. Promosi menjadi kunci penting agar juri Oscar yang merupakan anggota Associations of Motion Pictures Arts and Sciences (AMPAS) sadar bahwa ada film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ mendaftar ajang itu.

Sedangkan dalam kategori tersebut, setidaknya ada 89 negara peserta yang masing-masing mengirim satu film.

Artinya, persaingan awal yang harus dihadapi Kucumbu Tubuh Indahku adalah melawan 88 film lain untuk mendapatkan perhatian juri.

Untuk mengatasi hal ini, sejumlah strategi perlu dilakukan.

Nia Dinata pernah berbincang dengan LINTASMETRO

pada 2016 lalu tentang kesulitannya mempromosikan film Ca Bau Kan yang pernah dikirim untuk kategori Best Foreign Language Fim dari Indonesia.

“Harus bikin DVD, bagikan satu per satu ke jurinya, publikasi dengan bagus supaya ditonton. Kalau mereka enggak menonton, bagaimana mau memilih?” tuturnya Nia, waktu itu.

Nia pernah merasakan beban setelah Ca Bau Kan dipilih mewakili Indonesia masuk Oscar. Grup bentukan pemerintah kala itu tidak menyiapkan paket promosi. “Saya kebingungan ditelepon Academy. Bikin itu [promosi] kan mahal,” katanya.

Bukan hanya membuat DVD.

Catatan Komite Seleksi Film 2019 menunjukkan tim yang diutus mengawal film perwakilan dari Indonesia pada 2018 lalu

memasang iklan pada sejumlah media di Los Angeles dan menggelar acara penayangan khusus untuk meningkatkan peluang jangkauan film ke juri.

Untuk kebutuhan promosi ini, jelas butuh uang miliaran rupiah yang diperlukan guna produksi materi promo, iklan,

dan acara penayangan — yang belum tentu dapat anggaran memadai dari Pemerintah Indonesia. Miliaran itu pun belum menjamin juri tertarik dengan film yang ditayangkan.

Akan tetapi, sebenarnya materi promo ini akan bisa terbantu bila film yang diwakilkan memiliki prestasi di festival-festival film internasional. Khususnya, festival yang ‘terpandang’ di mata sineas Hollywood, seperti Venice International Film Festival dan Cannes Film Festival.

Tampaknya hanya keajaiban yang membuat Kucumbu Tubuh Indahku mampu menang dari Parasite dari Korea Selatan dan Weathering with You dari Jepang. Kedua film itu sudah di atas angin dengan beragam sorotan media dan pujaan dari para kritikus.

Pesaing paling dekat dengan Kucumbu Tubuh Indahku dari segi negara asal adalah Manta Ray dari Thailand. Walaupun peluang unggul amat tipis, Kucumbu Tubuh Indahku masih mungkin untuk bisa bersanding dengan bangga melawan film garapan Phuttiphong Aroonpheng itu.

Meski begitu, keputusan memilih Kucumbu Tubuh Indahku mewakili Indonesia ke Oscar harus diakui berani dan tepat.

Melalui Kucumbu Tubuh Indahku, perfilman Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa para sineas lokal berani bermain dalam tema sensitif dan kemanusiaan dengan cerita yang kuat tanpa meninggalkan unsur budaya setempat.

Kini, dunia perfilman Indonesia tinggal menunggu dukungan penuh pemerintah dan keajaiban yang membuat Kucumbu Tubuh Indahku bisa bersanding di nominasi Oscar 2020 mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *