Keanehan Kerajaan Agung Sejagat yang Dibongkar Sejarawan Purworejo


http://lintasmetro.com/ Kemunculan Kerajaan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah saat ini santer menjadi bahan perbincangan. Sejarawan setempat mengaku bahwa kisah dan riwayat yang disampaikan oleh pemimpin Keraton Agung Sejagat, Sinuhun Totok Santosa Hadiningrat tak bisa dipercaya mentah-mentah dan perlu adanya literatur agar bisa dikaji lebih dalam. Sebab informasi yang beredar saat ini rancu.

  1. Sinuhun diminta membuktikan riwayat sejarah dengan jelas
    Sejarawan dan budayawan Purworejo, Soekoso DM menyatakan bahwa Totok, sang pemimpin keraton atau Sinuhun harus membuktikan sejarah mereka dengan literatur yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.

“Ya itu harus ada bukti yang kuat atau dasarnya apa perjanjian yang sudah disebutkan. Kalau dasarnya saja sudah tidak jelas seperti ini ya tidak bisa diterima masyarakat,”

  1. Kisah sejarah Sinuhun tidak berdasar
    Menurut Soekoso, sejauh sejarah yang telah ia pelajari dan berdasarkan literasi yang ada, Kerajaan Majapahit runtuh tahun 1478. Jika Sinuhun mengatakan bahwa Kerajaan Majapahit masih melakukan perjanjian dengan Portugis tahun 1518 adalah sebuah sejarah yang tidak berdasar.

“Kalau tahun Saka runtuhnya (Majapahit) adalah tahun 1400 dengan sengkala Sirna Ilang Kertaning Bumi. Karena ada perbedaan dengan tahun Masehi dan tahun Saka, yaitu 78 tahun,” ungkap Soekoso.

  1. Majapahit runtuh pada 1478, bukan 1518
    Lebih dari itu, Soekoso juga menyatakan jika Majapahit luruh tahun 1478 M. Namun ada trahnya yang membangun kerajaan Demak.

Bahkan pada jaman Ratu Kalinyamat pernah menyerang Portugal di Malaka dan berlanjut menjadi kerajaan Pajang, lalu Mataram Islam. Kemudian ada rekayasa Belanda sehingga pecah menjadi Sala dan Jogja, menurut kisah dari perjanjian Giyanti 1755.

  1. Literatur Stadblaad Atlantic Sinuhun dipertanyakan
    Terkait literatur Stadblaad Atlantic yang disebut oleh kelompok Keraton Agung Sejagat, Soekoso mengaku belum mengatahui hal tersebut. Jikalau ada perjanjian 500 tahun di Malaka, Soekoso justru menyatakan bingung.

“Yang tanda tangan siapa, penguasa mana saat itu? Ya masih perlu kajian metodologi sejarahnya. Raja Agung Sejagat ini terkesan ngayawara (red: berkata-kata tanpa patokan atau tidak ada arti/kenyataanya),” ungkap Soeksoso menukil laman Purworejo24.

  1. Keraton Agung Sejagat menggelar Wilujengan dan Kirab Budaya

Sebelumnya, Kanjeng Sinuhun Keraton Agung Sejagat, Totok Santosa Hadiningrat didampingi permaisuri Kanjeng Ratu Dyah Gitarja pada Minggu (12/1) menggelar Wilujengan dan Kirab Budaya. Acara digelar sebagai bentuk penyambutan kedatangan Sri Maharatu Jawa kembali ke tanah Jawa setelah perjanjian 500 tahun. Terhitung sejak hilangnya kemaharajaan nusantara, yaitu Imperium Majapahit pada tahun 1518 sampai tahun 2018.

“Perjanjian 500 tahun tersebut dilaksanakan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa terakhir Imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang-orang barat di Malaka pada tahun 1518. Maka setelah perjanjian tersebut berakhir kekuasaan harus dikembalikan ke tanah Jawa,” papar Kanjeng Sinuhun Totok, juga mengaku memiliki
http://lintasmetro.com/ .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *