Kisah Gajah Dita Ditemukan Membusuk di Kubangan

Kisah Gajah Dita Ditemukan Membusuk di Kubangan

Kisah Gajah Dita Ditemukan Membusuk di Kubangan
Kisah Gajah Dita Ditemukan Membusuk di Kubangan

Lintasmetro : Beberapa hari lalu, jalan gajah betina ini gontai seolah tak sanggup membawa badan bongsornya berjalan. Dia tak mau keluar dari green belt atau kawasan hijau di Suaka Margasatwa Balai Raja, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Sesekali, gajah bernama Dita itu terlihat bersama satwa serupa lainnya, Seruni. Namun, pada Senin siang, 7 Oktober 2019, Dita ditemukan mati di kubangan dengan kondisi membusuk.Kisah Gajah Dita Ditemukan Membusuk di Kubangan

Kepala BBKSDA Riau Suharyono dikonfirmasi membenarkan kematian gajah itu. Petugas di lapangan menyimpulkan itu adalah Dita melihat dari tanda-tanda fisik di satwa benama latin Elephas maximus sumatranus ini.

“Tim masih di lokasi memeriksa fisik gajah untuk mencari tahu penyebab pasti kematiannya,” sebut Suharyono, Senin petang.

Dita merupakan anggota kelompok gajah di SM Balai Raja. Kematiannya sudah diperkirakan lima hari dan masih menunggu hasil nekropsi dari tim medis.

Terpisah, Solfarina dari RSF menyebut perut bangkai gajah Dita pecah sehingga ususnya keluar. Hal ini terjadi karena gajah itu sudah beberapa hari mati.

“Terakhir patroli, beberapa hari lalu, Dita masih terlihat. Begitu juga dengan gajah betina dewasa lainnya, Seruni,” kata Solfarina.

Menurut Solfarina, gajah Dita ditemukan di pinggir Jalan Bengkalis. Bangkainya terendam air kubangan tak jauh dari Dita berdiam diri sebelum ditemukan mati.

Penderitaan Dita Sejak 2016

Kisah Gajah Dita Ditemukan Membusuk di Kubangan
Kisah Gajah Dita Ditemukan Membusuk di Kubangan

Pada tahun 2017, gajah Dita pernah sekarat karena kakinya terluka parah akibat terkena jerat. Untuk mengobati kakinya, BBKSDA Riau menurunkan tim merawat Dita ke SM Balai Raja, Bengkalis.

Pengobatan dilakukan beberapa kali selama November 2017. Setiap kali pengobatan, gajah Dita harus ditembak bius agar tak membahayakan petugas di lapangan.

Menurut Kepala BBKSDA Riau Suharyono, luka di tapak kaki kanan gajah Dita cukup parah. Pengobatan ekstra harus dilakukan dan kondisinya terus dipantau berulang kali.

Selain obat, petugas medis tak lupa memberinya multivitamin penambah darah dan penguat otot supaya kuat berjalan. Tak lupa sampel darah Dita diambil untuk diperiksa di laboratorium.

Sebelumnya, pada tahun 2014, tapak kiri depan gajah Dita sudah putus karena jerat. Berikutnya, pada tahun 2016, BBKSDA Riau mengobati Dita hingga berlanjut pada tahun 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *