Melihat Wayang Wali Wayang Toleransi

Melihat Wayang Wali Wayang Toleransi

Melihat Wayang Wali Wayang Toleransi

Lintasmetro.com – Melihat Wayang Wali Wayang Toleransi, Bangsa Indonesia memiliki beragam suku dan budaya yang selama ini hidup dengan penuh kedamaian.
Namun belakangan ini rasa toleransi sudah mulai memudar, bahkan memecah belah bangsa.
Dari situ Komunitas Wayang Wali Wayang Toleransi hadir. Apa misi yang mereka bawa?

A. CHRISTIAN, Solo, Radar Solo

KESENIAN wayang sudah melekat di hati masyarakat Indonesia,
khususnya Jawa. Bahkan, seni wayang ini digunakan sebagai sarana penyebaran pesan-pesan agama,

hingga membawa misi sosial. Dan penggemarnya pun tidak pernah habis.

Berawal dari sini, Agung Bakar, inisiator Komunitas Wayang Wali Wayang Toleransi hadir.

“Karena setiap ada pertunjukan wayang itu, tidak tua, tidak muda. Dari mana saja asalnya,

apapun agamanya, pasti nonton,” kata Agung di sela persiapan pertunjukannya di kawasan Stadion Sriwedari, Sabtu (26/10).

Berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya, Agung mengolaborasikan tiga komunitas seni.

Antara lain Paguyuban Jumakala Laras Jatinom Klaten, Paguyuban Bumi Koripan, dan Sanggar Pamor Kartasura. Isu-isu yang diangkat seputar intoleransi.

Melihat Wayang Wali Wayang Toleransi

“Kami perhatikan situasi kondisi sekarang sudah mulai kehilangan tepo seliro. Mulai kehilangan toleransinya,” ujarnya.

“Padahal kami yakin ketika toleransi hilang, bangsa ini bubar. Toleransi ini suatu hal yang mahal.
Karena masyarakat zaman sekarang egois. Tidak memperhatikan lingkunganya. Yang berbeda dengan keyakiannya atau kelompoknya,

dianggap tidak benar, dan lain sebagainya,” paparnya.

Pandangan Agung, makna gotong royong yang ada di masyarakat hanya sebatas kumpul setiap akhir pekan. Kemudian membersingkan lingkungan sekitar.

“Padahal maknanya lebih dari itu. Nek takon wong tuo, gotong royong niku opo, mesti jawabane nek tonggone bangung omah yo bangun bareng.

Nek ono tonggone ra iso bayari anake sekolah yang disonggo bareng. Dibayari bareng,” bebernya.

Kondisi semakin diperparah informasi dan komunikasi yang ada di media sosia. Yang belum bisa dibuktikan kebenarannya.Namun ditelan mentah-mentah. “Berita yang tidak benar diterima tanpa disaring. Ini bahaya bagi generasi muda ke depan. Makanya
kami coba belajar bersama, berkampanye bersama, mengajak masyarakat tumbuhkan lagi rasa toleransi,” timpalnya.

Karakter wayang yang diusung Agung bukan wayang Purwa. Namun wayang kekinian yang mewakili masyarkat dari segala lapisan.

Mulai dari tokoh wong cilik, tokoh masyarakat, hingga kelas pejabat. Imajinasi karakter muncul dari keseharian Agung sebagai Kepala
Desa (Kades) Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten.

Di ujung cerita, keduanya bisa saling mengerti dan menghormati satu sama lainnya.

“Intinya sama tapi naskah dan jalannya cerita berbeda. Apa yang mereka perdebatkan itu yang selalu berbeda,” urai Agung.

Tugas Agung membuat naskah, komposisi cerita, dan sebagainya. Tak butuh waktu lama bagi dia
untuk membuat satu jalan cerita. Dengan catatan tahu isu toleransi yang terjadi akhir-akhir ini.

“Ketika sudah tersusun rapi, baru saya lontarkan kepada teman-teman pengrawit.

Bedanya kelompok ini, pengrawitnya juga dalang. Jadi semua bisa memamahami cerita yang saya buat,” jelasnya.

Lalu, sejak kapan wayang ini muncul? Agung ternyata sudah merintisnya sejak 2000-an silam.
Kala itu masih bernama kelompok Wayang Wayangane Wayang. “Setelelah lama vakum, 2019 mulai kami gerakan lagi,” ujarnya. (atn/fer/bun)

Dibuat oleh – Lintasmetro.com

24 Total Views 1 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *