Miris, Banyak Tanah Wakaf di Sukoharjo Terbelit Sengketa

Miris, Banyak Tanah Wakaf di Sukoharjo Terbelit Sengketa

Miris, Banyak Tanah Wakaf di Sukoharjo Terbelit Sengketa

Lintasmetro.com – Miris, Banyak Tanah Wakaf di Sukoharjo Terbelit Sengketa, Kasus lahan dan bangunan masjid di Kriwen, Sukoharjo menjadi pelajaran semua pihak.
Kementerian Agama mencatat, hingga saat ini ada lima sengketa wakaf di Sukoharjo.

Kepala Penyelenggara Syariah Kemenag Sukoharjo Tri Minarno mengatakan, dari 2.144 tanah wakaf yang terdata memang masih ditemukan beberapa permasalahan.

“Sejauh ini kami masih mengurus lima permasalahan tanah wakaf.
Yakni tiga masjid, satu tanah makam, dan satu tanah untuk gudang RT.

Permasalannya juga berbeda-beda. Kalau masalah Masjid Riyadhul Jannah di Kriwen, Sukoharjo memang belum tercatat tanah wakaf,” terangnya.

Ada beberapa sebab terjadinya sengketa. Misalnya tanah masjid di Nguter terkait perselisihan penerima wakaf.

Serta dua masjid yang berselisih paham di Kartasura. Sedangkan lainnya terkait tanah makam serta tanah hibah untuk gudang dusun yang ditolak pensertifikatannya oleh BPN.

“Selain itu, ada beberapa permasalahan terkait tanah wakaf. Seperti pewakafan lisan yang secara agama sah,

namun tidak atau belum diurus pensertifikatannya. Sehingga secara legal belum sah.

Dan biasanya dipermasalahkan ketika sampai di cucunya,” katanya.

Permasalahan lainnya seperti pergantian nazhir apakah perorangan,

organisasi atau badan hukum. Serta hilangnya sertifikat wakaf karena pewakafannya sudah lama.

Di Sukoharjo saat ini terdapat 2.144 tanah wakaf dengan luas 715.433,95 meter persegi.

Baik digunakan untuk masjid, madrasah, dan lainnya.

“Kalau tanah sudah diwakafkan, maka sudah aman.

Miris, Banyak Tanah Wakaf di Sukoharjo Terbelit Sengketa

Tidak bisa diperjualbelikan maupun digadaikan. Kalau masjid, lebih baik di wakafkan.

Sebab, kalau sudah tanah wakaf bisa mengajukan permohonan dana ke pemda. Jika masjid tidak di wakafkan,

ditakutkan muncul persoalan di kemudian hari,” ujarnya.
Terkait itu kami menjadi regulator,
motivator dan fasilitator sesuai dengan kewenangan kami. Bisa memberikan pembinaan jika dibutuhkan kami siap menfasilitasi
jika nanti dibutuhkan mediator. Tapi bagusnya dimusyawarahkan dulu dengan pihak terkait,” katanya.

Dia juga mengimbau agar masyarakat lebih jeli melahap informasi di media sosial (medsos).
Yakni, harus konfirmasi dan klarifikasi kebenaran informasi. “Sesuai aturan masjid didirikan di atas tanah wakaf.

Apabila ditemukan masjid sudah lama dan belum diwakafkan, bisa menyusul diwakafkan,” imbuhnya.

Terkait pembangunan tempat ibadah pemeluk Katolik, Kepala Penyelenggara Binmas Katholik
Anastasya Endang Murtasih mengatakan, syarat yang diajukan sama. Yakni melalui FKUB Sukoharjo.

Saat ini, terdapat 11 gereja Katolik di Sukoharjo. Berupa tiga gereja dan sembilan kapel.

“Semua gereja di Sukoharjo telah ada nomor registrasi dari Kemenag RI.

Selama ini kami belum membangun tempat ibadah lagi. Semua prosesnya melalui FKUB.
Sedangkan tanah yang digunakan merupakan tanah hibah atau sudah didanakan. Jadi bukan milik pribadi,” terangnya.

Selama ini jamaah Katholik telah dikelompokkan ke gereja mana mereka bisa beribadah.

Pihaknya belum pernah menemukan permasalahan tempat ibadah seperti sengketa. “Kami selalu mendata.

Kalau ada kapel belum ada izin maka kita uruskan. Dan selama ini jamaah kami pada umat beragama lain relatif kondusif dan aman,” imbuhnya.

Seperti diberitakan, lahan dan bangunan masjid di Dusun Bangsri Cilik RT 03 RW 01, Desa Kriwen,
Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo sempat menjadi perbincangan warga. Pasalnya,

sertifikat pekarangan yang di atasnya berdiri Masjid Riyadhul Jannah itu telah diagunkan di salah satu bank swasta.

Saat ini, tanah dan bangunan itu dalam pengawasan bank. (rgl/bun)

Dibuat oleh – Lintasnetro.com

17 Total Views 1 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *