Pasar Otomotif Global Era Mobil Listrik

Pasar Otomotif Global Era Mobil Listrik

Pasar Otomotif Global Era Mobil Listrik

Mazda Klaim Rasa Berkendara SUV Listriknya Seperti Mobil Konvensional

Mazda menepis keraguan bahwa rasa berkendara mobil listrik akan berbeda dengan mobil konvensional.

LintasMetro.com – Pasar otomotif global, termasuk Indonesia, telah masuk ke era mobil listrik. Namun, tak sedikit orang yang beranggapan bahwa rasa berkendaranya akan berbeda dengan kendaraan konvensional.

Mengutip dari Clean Technica, Mazda angkat bicara terkait hal ini. Mereka mengklaim bahwa SUV listrik terbarunya, Mazda MX-30, memiliki rasa berkendara yang sama dengan mobil konvensional.

Keraguan ini muncul lantaran torsi maksimum mobil listrik sudah tersedia sejak putaran mesin awal. Ditakutkan, akselerasi yang berlebihan harus membuat pengendara untuk menyesuaikan diri.

Namun, Mazda menyebut bahwa akselerasi Mazda MX-30 akan sama seperti mobil konvensional kebanyakan. Dengan demikian, para pengendara tidak perlu takut pada percepatan tiba-tiba.

Nantinya, Mazda MX-30 akan dibekali baterai berkapasitas 35 kWh. Motor listriknya mampu menghasilkan tenaga sebesar 141 hp dan torsi 264,4 Nm dengan jarak tempuh maksimum sekitar 209 km.

Mazda MX-30 diprediksi akan tersedia di Eropa pada akhir 2020. Nantinya, diperkirakan mobil SUV listrik ini dijual dengan harga sekitar EUR34.000 atau Rp518 jutaan (Kurs EUR1 = Rp15.253).

Selain perang teknologi, daya jangkau dan kapasitas baterai menjadi senjata untuk bersaing di segmen mobil listrik. Ambil contoh, Tesla masih terus meningkatkan kapasitas daya jangkau produk-produknya.Pasalnya, konsumen masih khawatir dengan daya jangkau mobil listrik.

Maka tak heran, ketika Mazda mengenalkan mobil listrik MX-30, publik justru menyoroti daya jangkaunya. Mazda MX-30 hanya memiliki kemampuan daya jangkau sejauh 124 mil atau 199,5 kilometer.

Sementara kapasitas baterai Mazda MX-30 yakni 35,5 kWh. Melansir Automotive News Europe, Direktur R&D Mazda Eropa, Christian Schultze mengatakan, kapasitas baterai tersebut adalah ukuran yang dibuat secara bertanggung jawab.

Dengan kata lain, hal itu merujuk pada emisi karbon yang dihasilkan dari komponen mobil listrik. Melalui sebuah grafik, Mazda menunjukkan bahwa kendaraan listrik masih menghasilkan emisi CO2.
Menurutnya, kapasitas baterai MX-30 itu masih sebanding dengan mesin diesel Mazda 3 compact. Berdasarkan hal tersebut, Schultze mengatakan setelah pergantian baterai, emisi masih terjadi.

Terlebih setelah penggunaan seajuh 160.000 kilometer, total emisi CO2 pada MX-30 masih mirip dengan emisi yang dihasilkan oleh mesin diesel. Maka itu kapasitas baterai yang lebih besar 95 kWH, dinilai akan memiliki emisi yang jauh lebih tinggi.

Emisi tinggi itu disebut dihasilkan sejak pemakaian pertama. Sehingga ketika dipakai dalam waktu lama hingga tiba pada masa penggantian baterai, emisi CO2 akan semakin melonjak. Selain itu, konsumsi listrik juga disebut lebih tinggi jika kapasitas baterai besar.

10 Total Views 1 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *