Perasa Rokok Elektrik Perparah Penyakit Asma.

Perasa Rokok Elektrik Perparah Penyakit Asma.

Perasa Rokok Elektrik Perparah Penyakit Asma Mengisap rokok elektrik seperti vape bisa memperparah kondisi asma.

Perasa Rokok Elektrik Perparah Penyakit Asma.
Perasa Rokok Elektrik Perparah Penyakit Asma.

Perasa Rokok Elektrik Perparah Penyakit Asma Hal itu terungkap dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports.

Dalam penelitian pada tikus tersebut, para peneliti menemukan bahwa zat dalam aroma atau perasa dalam vape, mengubah fungsi saluran udara seseorang.

“Temuan kami menunjukkan bahwa rokok elektrik beraroma tanpa nikotin,

dapat memicu penyakit alergi saluran napas tetapi efeknya tergantung pada perasa spesifik,”

kata para peneliti seperti dilansir dari Newsweek pada Selasa (24/9/2019). Beberapa penyakit yang dimaksud antara lain adalah asma dan rinitis.

Para peneliti melakukan uji coba dengan memaparkan tikus ke uap beraroma dari beberapa rokok elektrik.

Selain itu, mereka juga membandingkan antara rokok elektrik dengan dan tanpa nikotin, serta hewan yang dipaparkan udara ruangan biasa.

Soroti Bahaya Perasa dalam Rokok Elektrik

Para penulis menyatakan bahwa temuan tersebut memperlihatkan potensi dari rokok elektrik yang beraroma meski tanpa menggunakan nikotin, khususnya pada pasien asma.

“Mayoritas perokok elektrik menggunakan cairan perasa, tetapi ada beberapa bukti bahwa zat tambahan rasa bisa beracun ketika dihirup,” kata David Chapman,

translational physiologist di University of Technology Sydney yang memimpin penelitian ini.

Chapman menambahkan, meski dalam studi ini hanya beberapa perasa yang memperlihatkan efek tertentu bagi penyakit seperti asma.

tidak semua rokok elektrik beraroma akan memiliki dampak kesehatan yang sama terhadap paru-paru.

Di Amerika Serikat sendiri, Center for Disease Control and Prevention mencatat sudah ada 530 pasien penyakit paru akibat penggunaan rokok elektrik,

Sebagian besar korban mengisap rokok elektrik yang berisi ganja serta nikotin.

“Sayangnya, lebih banyak orang dirawat di rumah sakit karena penyakit paru setiap minggunya,” kata Anne Schuchat, wakil direktur utama CDC dikutip dari Scientific American.

Selain itu, beberapa pasien yang sempat dirawat dan telah dipulangkan karena penyakit tersebut, diketahui kembali ke rumah sakit.

Umumnya, hal itu terjadi antara lima sampai 55 hari usai mereka kembali ke rumah.

Schuchat mengatakan belum ada kejelasan mengapa itu bisa terjadi. Beberapa pihak sedang melakukan penyelidikan,

salah satunya terkait apakah diakibatkan melemahnya paru-paru karena penyakit atau obat kortikosteroid yang digunakan dalam perawatan. Bisa juga diakibatkan penggunaan rokok elektrik lagi oleh pasien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *