Praveen-Melati Membuktikan Diri

Praveen-Melati Membuktikan Diri – Teguran memang sudah semestinya dibalas dengan pembuktian. Itulah yang dilakukan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti.

Dua turnamen yang baru berakhir di Eropa jadi gambaran bahwa ‘tamparan’ bisa jadi pembelajaran untuk menarik keluar seluruh kemampuan.

Praveen-Melati Membuktikan Diri
Praveen-Melati Membuktikan Diri

Aksi Praveen yang tak disiplin dengan membolos latihan sebelum tur Eropa diganjar Surat Peringatan 2 (SP2).

Kepala pelatih ganda campuran Richard Mainaky bereaksi keras dan mengancam memberikan sejumlah hukuman untuk Praveen, termasuk tak bisa ikut turnamen badminton level Super 750 di Eropa: Denmark dan French Open.

Alih-alih semakin berantakan, Praveen justru semakin gahar dengan menyapu bersih dua gelar di Eropa dari Denmark dan French Open secara beruntun bersama Melati.

Kualitas Praveen benar-benar keluar di dua turnamen tersebut.

Error yang dianggap lekat dengan dirinya sangat jauh berkurang.

Smes pun semakin tajam dan keras.

Penempatan bola, dropshot, dan pukulan-pukulannya juga mematikan lawan.

Permainan Praveen ditopang aksi Melati yang lihai di depan net sehingga memberikan umpan matang untuk Praveen bisa menyerang dari belakang.

Melati punya kemampuan menyeberangkan bola-bola tipis di depan net dan sergapan yang cepat.

Praveen-Melati Membuktikan Diri
Praveen-Melati saat berlaga

Kombinasi pertahanan yang tak gampang mati juga membuat Praveen/Melati semakin kuat.

Mereka juga tak mudah terbawa pola permainan lawan.

Bukan hanya Praveen. Ini juga ajang pembuktian bagi Melati.

Sebagai generasi junior tepat di bawah Liliyana Natsir, Melati membawa tekanan besar untuk bisa meneruskan prestasi sang legenda yang akrab disapa Butet itu.

Menyandang status gelar juara dunia junior 2012, permainan Melati di tingkat senior tak kunjung berkembang.

Di turnamen sekelas Super Series, Melati sering kali tertahan di babak pertama dan kedua.

Barulah saat dipasangkan dengan Praveen yang ditinggal pensiun Debby Susanto, Melati mulai bertaji.

Mereka kali pertama dipasangkan pada awal 2018 di Malaysia Masters.

Setahun kemudian, Praveen/Melati mulai merangsek ke jajaran papan atas atas dan baru saja dua kali naik podium juara.

Dua gelar juara dalam dua minggu berturut-turut ini tak diraih dengan mudah.

Mereka mesti bertarung melawan ganda nomor satu dunia plus juara dunia, Zheng Siwei/Huang Yaqiong.

Di Denmark, Praveen/Melati berhasil mengalahkan Siwei/Yaqiong pada babak perempat final dengan tiga game ketat 18-21, 21-16, dan 22-20.

Di partai final, mereka mengandaskan harapan China lainnya dengan membalaskan kekalahan pada Wang Yilyu/Huang Dongping, juga dengan rubber game 21-18, 18-21, dan 21-19.

Wang/Huang sempat jadi mimpi buruk Praveen/Melati karena mereka selalu jadi pengganjal di tiga final sebelumnya.

Di Prancis, Praveen/Melati menggagalkan unggulan kedua dan juga ganda nomor tiga dunia dari Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai di babak perempat final.

Mereka kembali mengalahkan Siwei/Yaqiong lewat permainan apik di partai puncak 22-24, 21-16, dan 21-12.

Sepanjang 2019 sebelum turnamen Eropa, Praveen/Melati sempat empat kali masuk final.

Namun keberuntungan belum berpihak pada Praveen/Melati di India Open, New Zealand Open, Australia Open, dan Japan Open.

Pertandingan di final itu selalu berakhir dengan kekalahan dan mereka harus puas berdiri di podium runner up.

Podium runner up hanya selangkah lebih rendah dari podium juara.

Sama halnya dengan menjadi runner up hanya berjarak sejengkal dari posisi pemenang.

Tetapi kegagalan di partai final tentu jauh lebih menyakitkan dibandingkan tersingkir di babak awal.

Kegagalan yang berulang juga sempat jadi mimpi buruk yang menakutkan plus menyakitkan.

Mimpi buruk itu akhirnya berhasil dienyahkan di Denmark dan sukses kemudian mulai menjelma jadi rutinitas ketika mereka berlaga di Prancis sepekan berselang.

Setelah memutus dahaga juara, Praveen/Melati bakal dituntut untuk membuktikan konsistensi mereka di setiap turnamen elite.

Dua juara dalam dua pekan ini cukup untuk membuat Praveen/Melati ditakuti lawan di turnamen berikutnya.

Praveen/Melati harus bisa memanfaatkan momentum ini untuk membuat mereka tampil lebih percaya diri.

Dalam waktu dekat mereka akan tampil di Fuzhou China Open Super 750 dan Hong Kong Super 500.

Di pengujung tahun, Praveen/Melati juga berlaga di SEA Games 2019 dan World Tour Finals di Guangzhou, China.

Tahun depan tantangan besar juga menanti untuk dapat merebut gelar juara yang lebih prestisius seperti Olimpiade 2020.

Terlebih nomor ganda campuran juga memiliki beban mempertahankan emas milik Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Olimpiade 2016.

Dua gelar Praveen/Melati juga jadi pembuktian Indonesia masih layak diperhitungkan di kelas ganda campuran.

Indonesia masih memiliki ganda tangguh sepeninggal Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Sukses Praveen/Melati tentu diharapkan bisa jadi pemantik semangat dan cambuk motivasi bagi ganda campuran lainnya.

Hafiz/Gloria yang ada di peringkat kesembilan dunia juga harus membuktikan bisa konsisten bersaing dengan ganda top dunia dan merebut gelar juara.

Selain itu, Tontowi juga harus membuktikan bisa membimbing pemain yang lebih junior seperti Winny Oktavina Kandow.

Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari juga harus berusaha untuk bisa masuk dan naik kelas ke jajaran ganda campuran top dunia.

Setelah menghayati bukti-bukti dari Praveen/Melati, menarik untuk melihat kiprah seluruh pemain ganda campuran dalam beberapa bulan ke depan.

Posted By Lintasmetro

9 Total Views 1 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *