Soal Pelecehan Dokter Androlog Sayangkan Perempuan Selalu Disalahkan

Soal Pelecehan Dokter Androlog Sayangkan Perempuan Selalu Disalahkan

Lintasmetro.com – Soal Pelecehan Dokter Androlog Sayangkan Perempuan Selalu Disalahkan, Kasus dugaan pelecehan seksual kepala sekolah kepada siswi SMK di Surabaya mulai masuk tahap

pengembangan Polrestabes Surabaya. Sebelumnya, R, 18, melaporkan kepala sekolahnya, AF, 53 atas dugaan pelecehan seksual.

Dokter Onassis, spesialis andrologi RS Bhayangkara Polda Jatim dan RS Siloam Surabaya, mengingatkan orang tua dan remaja untuk

kembali menekankan awareness untuk mencegah tindak pelecehan seksual. Dia menekankan pentingnya untuk meminta tolong dalam kondisi tertentu.

”Anak-anak dan remaja harus diajarkan mencari pertolongan. Bagaimana keluarga inti menjadi orang terdekat. Jangan sampai dia nggak punya kepercayaan ke keluarga,” tutur Onassis pada Sabtu (13/3).

Onassis menyoroti budaya kepemilikan power atau kekuatan pihak yang melakukan pelecehan. Merujuk pada kasus AF dan R, dia

menilai AF memiliki power sebagai kepala sekolah. Sehingga bisa saja melakukan pelecehan.

”Sepanjang budaya laki-laki merasa bisa melakukan apapun ke perempuan, pasti hal ini akan terus terjadi. Yang terjadi sama

tersangka, kebanyakan karena ketidakmatangan psikologis secara seksual. Mencari pelampiasan kepada lawan jenis yang powerless (tidak memiliki kekuatan),” ujar Onassis.

Soal kasus AF dan R, Onassis menilai, sering kali orang berusia matang mencari ajang pembuktian diri melalui tindak pelecehan. ”Mereka berpikir kalau sama yang lebih muda, rangsangan dan ereksi lebih baik. Kalau orang ini secara psikis seksualnya tercukupi, biasanya mereka nggak mungkin melakukan pelecehan,” papar Onassis.

Untuk trauma healing korban, Onassis mengingatkan, dokter dan psikolog harus dilibatkan. Kemudian, korban bisa dijauhkan dari lingkungan yang memberi trauma. Misalnya, bila pelecehan terjadi sekolah, pindahkan ke tempat jauh.

Soal Pelecehan Dokter Androlog Sayangkan Perempuan Selalu Disalahkan

”Beban mental berat. Empati masyarakat kurang. Imej masyarakat memojokkan korban pemerkosaan, pelecehan sebagai orang yang salah karena mengumbar tubuh untuk digunakan orang. Lebih baik dijauhkan,” terang Onassis.

Di sisi lain, Onassis khawatir bila pelecehan benar-benar terjadi pada R, tidak ada hal yang dapat menjadi pembuktian. Sebab, visum tidak begitu berpengaruh. Mengingat peristiwa tersebut sudah terjadi setahun lalu.

Dibuat oleh – Lintasmetro.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *