Swedia Tak Lockdown Demi Ekonomi Tidak Hancur

Swedia Tak Lockdown Demi Ekonomi Tidak Hancur

Lintasmetro Swedia Tak Lockdown Demi Ekonomi Tidak Hancur. Konon tak ada fomula tepat untuk menghadapi pandemi virus korona baru COVID-19. Perdebatan masih terus terjaid apakah lockdown atau menghentikan kegiatan sama sekali adalah keputusan tepat, terutama karena dampak ekonomi yang muncul. 

Swedia adalah salah satu negara yang memilih tidak lockdown atau karantina ketat demi menyelamatkan ekonomi. Pemerintahnya memilih mewajibkan masyarakat menjaga jarak dalam aktivitas sehari-hari. 

Swedia juga dituding mengejar herd immunity. Yakni membiarkan banyak orang terekspos virus sehingga semakin banyak yang memiliki kekebalan tubuh terhadpa penyakit. Sebuah cara yang kemungkinan besar menimbulkan banyak kematian sebelum tercapainya herd immunity tersebut. 

Pertanyaan ini yang digali dari presenter Trevor Noah saat mewawancarai Kepala Penanganan Penyakit Menular Swedia, Anders Tegnell. Wawancara ini tengah viral dan jadi pembahasan di seluruh dunia.

Swedia Tak Lockdown Demi Ekonomi Tidak Hancur

Swedia memilih mempercayakan masyarakatnya buat menjaga diri. Menerapkan aturan menjaga jarak, tidak berkerumun, dan mereka yang sakit walaupun ringan wajib berdiam diri di rumah. Mereka yang sakit dan berdiam diri di rumah akan mendapatkan bantuan dan tetap digaji. 

Pada wawancara yang ditayangkan pada 6 Mei, Tegnell yang sedang berada di stasiun kereta mengatakan Swedia memilih mengambil langkah yang melawan arus.   Ketimbang menghentikan semua aktivitas masyarakat, kata Tegnell, Swedia memilih menyetop aktivitas dan titik-titik di mana penularan bisa terjadi. 

Tegnell mengatakan, negaranya memilih melihat penanganan pandemi tidak dari sisi kesehatan saja, tapi secara menyeluruh mempertimbangkan semua aspek. Namun kuncinya adalah membuat masyarakat bertanggung jawab menjaga diri dan lingkungannya

Negara dengan 10 juta penduduk itu pekan ini melaporkan lebih dari 28 ribu kasus positif Covid-19 dan sedikitnya 3.500 kematian.  Jauh lebih tinggi ketimbang kedua negara Skandinavia lainnya yang menerapkan lockdown ketat sejak awal. Denmark melaporkan sekitar 10 ribu kasus, sedangkan Finlandia melaporkan 6 ribu. 

Dibuat Oleh – Cahyono Lintasmetro.com

4357 Total Views 1 Views Today

Related posts

Leave a Comment