Transformasi Digital Belum Optimal di Luar Pulau Jawa

Transformasi Digital Belum Optimal di Luar Pulau Jawa

 Transformasi Digital Belum Optimal di Luar Pulau Jawa,

Lintasmetro.com –  Transformasi Digital Belum Optimal di Luar Pulau Jawa, Perkembangan digital memang begitu pesat. Tapi itu baru terasa di Ibu Kota Jakarta dan kota besar lainnya. Sedangkan di luar Jawa,

terutama di daerah 3T (terdalam, terluar, dan tertinggal, red) belum sama sekali.

Ekonom UGM Sri Adiningsih menuturkan, Indonesia negara yang luas. Penduduknya lebih dari 250 juta jiwa. Masih banyak masyarakat di daerah yang masih tertinggal dalam hal kemajuan teknologi digital. Terutama di daerah 3T.

“Transfromasi sementara baru terasa di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Itu pun dalam skala yang berbeda,”

kata Sri Adiningsih di sela-sela peresmian lembaga Institute for Social, Economic, and Digital (ISED) di Jakarta, Rabu (20/11).

Sri Adiningsih yang juga founder ISED itu lebih jauh mengatakan, dengan ketimpangan penetrasi digital itu, maka perlu socio-technopreuner yang bergerak dalam beberapa bidang.

Di antaranya pengkajian, pemberdayaan, pelatihan, diskusi, edukasi, survei, diseminasi, dan kegiatan lainnya.

Begitu juga ISED, pun berfokus dalam bidang sosial, ekonomi dan digital untuk menjawab tantangan dan peluang yang muncul dalam era digital.

“Kami ingin membantu transformasi digital lebih cepat, lebih luas, dan lebih nendanglah dampaknya,” jelas mantan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden tersebut.

Transformasi Digital Belum Optimal di Luar Pulau Jawa

Dia percaya bahwa transformasi digital akan menjadi prioritas pemerintah lima tahun ke depan. Pemerintah pun bekerja keras agar internet benar-benar bisa mentransformasi Indonesia.

“ISED hadir ikut membantu pemerintah. Kita akan berkolaborasi dengan berbagai pihak agar masyarakat Indonesia bisa belajar dan memanfaatkan tranformasi digital dengan baik,” Sri Adiningsih.

Sementara itu, Direktur ISED Julie Trisnadewani mengatakan, ekonomi berbasis digital berkembang begitu pesat, baik di dunia maupun di Indonesia.

Perkembangan itu telah menimbulkan isu-isu penting, seperti ojek online versus ojek tradisional; retail konvensional versus retai online; on-demand services lainnya; serta keamanan/privasi data pribadi.

Perkembangan ekonomi berbasis digital di Indonesia begitu variatif. Misalnya, antara perkotaan dan perdesaan. Antara Jawa dan luar Jawa, serta wilayah Indonesia Barat dan Indonesia Timur.

Di sisi lain, perkembangan penetrasi digital juga telah menciptakan banyak lapangan kerja baru dan peluang usaha baru. Menurut dia, ekonomi berbasis digital memiliki potensi untuk dapat meningkatkan .

kesejahteraan masyarakat melalui pengurangan pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan. “Kini tinggal bagaimana kesiapan pemerintah.”

Dibuat oleh – Lintasmetro.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *